Pengertian Wali Allah Menurut Islam Beserta Kisahnya

Posted on

 

Pengertian Wali Allah Pintarbaca.Com Sudah tahu pengertian wali dalam keluarga? Atau ingin tahu pengertian wali nikah?

Orang mukmin yang sudah mencapai derajat tinggidan mempunyai keddukan yang special di sisi Allah maka orang yang seperti ini

merupakan golongan dari orang-orang yang Allah cintai atau lebih familiar dengan sebutan waliyullah.

Dengan demikian, andai saja kita artikan, maka wali akan berarti seseorang yang tidak pernah meninggalkan keta’atan terhadap Allah SWT dan mereka di beri kuasa oleh Allah sebagai keistimewaan baginya yang berupa karomah.

Namun, sekalipun orang mukmin telah sampai pada tingkatan ini tidak lantas berarti kewajibannya untuk melakukan ibadah yang telah di jelaskan dalam qur’an dan hadist menjadi gugur dari mereka.

Pengertian Wali Allah

pengertian wali Allah

Seseorang yang memiliki prasangka bahwa andaikan seseorang hamba telah menjadi wali dan telah mencapai tingkat haqiqot maka baginya tidak ada lagi tuntutan kewajiban melaksanakan syari’at maka dia termasuk orang yang sesat dan menyesatkan serta menyimpang.

Bagaimana mungkin kewajiba-kewajiban itu gugur dari mereka. Sebab manusia yang telah di angkat menjadi nabi saja masih tetap memiliki kewajiban untuk menjalankan ibadah yang telah di isyaratkan oleh Allah swt.

Sudah semestinya hal itu juga berlaku sama terhadap seseorang wali. Dalam sebuah hadits di jelaskan bahwa rasulullah saw melakukan sholat hingga kedua derajat telapak kakinya bengkak.

Kemudian beliau bertanya;

Apakah dosa-dosamu, baik yang awal dan yang akhir belum di ampuni oleh Allah?’’

Rasulullah pun balik bertanya;

Apakah aku tidak boleh menjadi seorang hamba yang banyak bersyukurnya?’’

Hal yang demikian ini menjadi di sebabkan sesungguhnya kewajiban beribadah merupakan hak penghambaan dan merupakan hak mensyukuri nikmat.

Menjadi seorang wali tidak lah menyebabkan diri seseorang lepas dari ketentuan-ketentuan status sebagai seorang hamba yang menghambakan dirinya kepada tuhannya.

Da juga perlu kita ketahui bahwa sosok wali bukanlah terlihat dari sisi atributnya, dengan kata lain, seorang wali tidak bisa di nilai dari gaya bajunya, gaya jalannya atau jihad yang ada tanda hitamnya.

Namun yang menjadi poin penilaian adalah hatinya yakni seberapa besar sisi wira’I dan ta’atnya kepada Allah SWT.

Rasulullah saw bersabda:

Taqwa, itu ada di sini’’ seraya menunjukkan pada dada beliau.

Pengertian Wali Allah – KAROMAH WALI

Untuk menetukan apakah seseorang itu sudah sampai pada derajat wali atau tidak, bukanlah termasuk hal yang mudah. Bahan sebagai ulama’ mengatakan bahwa untuk mengetahui status kewalian seseorang lebih sulit dari pada mengetahui terhadap Allah swt.

Meskipun demikian, status kewalian seseorang yang dapat di ketahui melalui beberapa cara, di antaranya melalui karomah yang di miliki atau pun melalui informasi dari orangorang khosh.

Mengenai masalah karomah, tidak semua kejadian yang terjadi di luar kebiasaan manusia bisa di sebut dengan karomah.

Karena, adakalanya kejadian yang di luar tersebut merupakan bentuk istidroj, ma’unah, atau pun bisa juga sebagai karomah.

Untuk membedakan tiga tipe kejadian di atas, tinggal kita melihat pada siapa pelakunya. Artinya, jika kejadian aneh itu muncul dari orang awam maka hal tersebut bernama ma’unah.

Jika munculnya dari orang yang fasik maka kejadian tersebut bernama istidroj.

Dan kalau ia muncul dari para wali maka hal tersebut dinamakan dengan karomah.

Sedangkan seseorang tidak bisa di katakana wali jika tidak memenuhi empat syarat, yaitu;

  • Ia mengetahui dasar-dasat agama islam
  • Ia mengetahui hukum-hukum syariat
  • Mempunyai perilaku yang terpuji
  • Selalu mawas diri terhadap Allah swt.

Pengertian Wali Allah – PEMBACA HATI MANUSIA dan PENAHKHLUK  HEWAN BUAS

Hamzah bin Abdullah al-alwi berkata; aku mendatangi tempat abi kahir namun sebelum berangkat, di dalam hati, aku berikrar bahwa nanti aku akan mengucapkan salam kepadanya dan tidak akan memakan makanan di rumahnya.

Betul saja, mana kala aku tiba di rumahnya aku mengucapkan salam dan di sana aku tidak memakan hidangan.

Sampai pada saat aku beranjak pulang dari rumahnya, dari belakang ia mengikutiku dengan membawa sebuah talam atau nampan berisikan makanan. Abul kahir an-ninani berkata;

Hai anak muda! Makanlah! Saat ini kau tidak lagi berada di dalam rumahku’’ beliau memang terkenal akan karomahnya.

Ibrahim ar-ruqy pun ikut bercerita; suatu saat aku hendak menuju kediaman abul kahir an-ninani untuk sekedar mengucapkan salam kepadanya.

Saat itu, aku tiba di rumahnya ketika waktu masih shalat magrib. Di dalam sholatnya, tatkala ia hampir selesai membaca surat alfatihah, aku berkata dalam hatiku;

Sepertinya perjalanan sia-sia’’.

Namun, setelah memberi salam kepada abul kahir, aku pun keluar menuju tempat bersuci.

Disana, mendadak ada seekor binatang buas menghadap ke padaku. Karena ada hewan buas, aku pun kembali lagi kepada abul kahir lantas menerangkan bahwa ada seekor binatang buas menuju kepadaku.

Menanggapi laporanku, abul kahir lalu keluar dan berteriak seraya berkata kepada hewan buas tadi;

Sudah berapa kali aku katakana kepadamu, janganlah engkau mengganggu tamu-tamuku?.

Sepertiorang di usir, singa itu pun mundur lalu menyingkir. Dengan begitu barulah aku bisa bersuci.

Usai bersuci, sewaktu aku kembali kepada abdul kahir ,maka beliau berkatakepadaku;

Kamu terlalu sibuk memperbaiki dhohir saja. Sebab itulah kamu masih merasa takut pada singa. Dan sku sendiri sibuk membenahi perkara batin maka singa itu aku takut kepadaku’’.

Pengertian Wali Allah – WALI yang MENGETAHUI ISI HATI SESEORANG

pengertian wali Allah

Diceritakan dari abi sa’id al-khorraz, ia berkata; pada suatu ketika aku pernah masuk ke masjidil harom. Di sana, aku melihat orang miskin yang mengenakan dua potong pakaian. Dalam hati akupun berbicara;

Orang ini dan orang-orang yang sepertinya adalah orang-orang yang menggantungkan hidupnya pada orang lain’’.

Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Maka waspad Allah!’’

Sontak orang miskin itu berkata demikian setelah sebelumnya ia memanggilku.

Mendengar perkataan orang miskin itu aku kaget dan tercengang kiranya di dapat mengetahui apa yang barusan telah aku gumamkan dalam hatiku.

Karenanya, seketika aku pun segera memohon ampunan kepada Allah dalam hatiku. Orang miskin itu memanggilku lantas ia berkata;

Dialah dzat yang maha menerima taubat dari hamba-hambanya’’.

Dalam sekejap pandang setelah berkata begitu, orang tersebut tiba-tiba menghilang dari hadapanku dan aku pun tidak melihatnya lagi.

Zakaria bin daud  berkata;

Abul abbas bin masruq mengunjungi abil fadli al-hasyimi yang sedang dalam kondisi sakit serta mempunyai tanggungan keluarga.

Untuk mencukupi kebutuhan keluarganya tidaklah orang-orang mengetahui dari mana dia memperolehnya.

Tatkala abul abbas berdiri, di hatinya ia berkata;

Darimanakah orang ini bisa makan?

Lepas dalam hatiku bertanya, abil fadli lantas berteriak dan aku yang ia tuju;

Hai abul abbas! Buanglah angan-angan yang keji itu! Sesungguhnya ada pada diri Allah ta’ala pertolongan dan pelindungan yang samar’’.

Pengertian Wali Allah – KISAH SEORANG WALI dan BUAH DELIMA

Ibrahim al-khawwash bercerita; pada suatu hari aku berada di pegunungan al-lukman. Di tempat itu aku melihat buah delima. Buah delima itu membuat keinginanku terasa bangkit untuk memakan buah tersebut.

Kemudian aku ambil satu buah, lalu aku belah dan ternyata rasanya masam setelah aku mencicipinya.

Setelah itu, aku berlalu pergi dan meninggalkan buah delima tadi.saat di perjalanan, aku melihat seorang lelaki gelandangan dengan kondisi badan yang telah di kerumuni beberapa kumbang besar.

Kepadanya aku mengucapkan salam dengan ucapan;

Assalamu’alaika’’.

Wa’alaikassalam ya Ibrahim’’ jawab lelaki itu.

Siapa yang mengenal Allah azza wa jalla niscaya tiada suatu apapun yang samar darinya’’ sahut lelaki kumuh tadi

Aku melihatmu berada pada kondisi yang mana Allah menyertaimu. Mengapa engkau tidak memohon kepadanya supaya di hindarkan dari kumbang-kumbang ini’’ lebih jauh aku bertanya.

‘’ akupun melihat dalam dirimu ada sebuah kondisi yang mana Allah selalu menyertainya. Alangkah baiknya jikalau engkau memohon kepadanya untuk di jaga dari keinginanmu akan buah delima. Sesungguhnya sakitnya sengatan kumbang besar, sakitnya hanya akan di rasakan di dunia saja’’ begitulah lelaki itu menjawabku.

Mendengar perkataan lelaki itu maka lantas aku pergi meninggalkannya untuk kemudian melanjutkan perjalanan.

Pengertian Wali Allah – KAROMAH ORANG SUFI untuk MENGISLAMKAN PENDETA

Dikisahkan, ada seorang shufi bertemu dengan seorang pendeta nasrani. Lalu ia berdiskusi dengan nya mengenai keadaannya. Orang

shufi ini sangat berharap pendeta tersebut memeluk agama islam dan meninggalkan kepercayaan yang di anutnya.

Dalam diskusinya, ahli shufi itu memperbincangkan banyak hal dengan sang pendeta hingga akhirnya pendeta itu berkata;

‘’Sungguh! Isa al-masih telah menahan lapar selama empat puluh hari dan yang demikian ini adalah sebuah mu’jizat yang tak mungkin terjadi kecuali bagi nabi atau orang siddiq’’.

“jikalau aku bisa menahan lapar selama lima puluh hari apakah anda akan meninggalkan agama anda dan anda bersedia masuk islam? Sementara anda sebetulnya tahu bahwa islam itu benar namun anda masih tetap memilih untuk berada di atas agama batil?’’ sahut ahli shufi menanggapi perkataan sang pendeta.

Ya, baik!’’ tegas sang pendeta menjawab.

Kesepakatan telah terjadi antara keduannya, ahli shufi pun duduk di suatu tempat di temani sang pendeta dan ia tak meninggalkan tempat duduknya kecuali atas sepengetahuan sang pendeta tadi.

Dan pada akhirnya, ahli shufi telah sukses menahan lapar dalam lima puluh hari lamanya. Ahli shufi tersebut pun hilang pada pendeta;

Aku ingin menambah puasaku ini untukmu’’.

Ternyata benar, ahli shufi itu menambahai lagi puasanya sampai genaplah semua puasanya dalam masa enam puluh hari.

Atas apa yang telah di lakukan oleh ahli shufi ini, sang pendeta merasa terkejut keheranan dan dia berkata kepada ahli shufi;

Aku tidak menyangka sama sekali, ada orang yang bisa melampaui isa al-masih’’.

Dan pada akhirnya sang pendeta menepati janjinya, dia memeluk agama islam.

Pengertian Wali Allah – Kisah Wali BERKOMUNIKASI dengan MALAIKAT

Sebagian ahli ma’rifat berkata; aku pernah bertanya kepada ssebagian wali abdal mengenai persoalan menyaksikan Allah dengan yakin.

Ketika aku menanyakan hal tersebut maka wali itu tidak langsung memberikan jawaban melainkan ia menoleh ke kiri dan kemudian bertanya;

Apa yang kamu katakana? Semoga kasih saying Allah swt selalu tercurah untukmu!’’

Setelah menoleh ke kiri pun menoleh ke kanan kemudian berkata;

Apa yang kamu katakana? Semoga kasih saying Allah SWT senantiasa tercurah kepadamu!’’

Dan untuk yang terakhir kalinya ia menundukkan kepada kea rah dada seraya bertanya;

Selesai seperti itu, barulah ia memberikan jwaban dengan penjelasan yang paling menakjubkan di antara beberapa jawaban yang pernaha aku dengar.

Selain itu, aku juga menanyakan tentang tolehannya itu. Beliau menjawab;

Aku tidak punya jawaban akan apa yang kamu pertanyakan. Oleh karena itu aku bertanya kepada malaikat yang menjaga arah kiriku namun dia memberikan jawaban aku tidak tahu.

Selanjutnya aku bertanya kepada malaikat penjaga arah kananku. Dan itu lebih banyak pengetahuannya dari pada malaikat penjaga yang ada di sebelah kiriku namun jawabannya pun sama yakni aku tidak tahu.

Dan untuk yang terakhir, aku melihat kepada hatiku terus aku bertanya kepadanya dan kali ini aku mendapatkan jawaban yaitu jawaban seperti yang tadi telah aku terangkan kepadamu’’.

Pengertian Wali Allah – Ingin BERSAMA ALLAH SELAMANYA

Alkisah suatu saat seorang pengembara menceritakan kisah pengembaraannya. Dia berkata; aku pernah menanyai seorang wali abdal dengan sebuah pertanyaan, begini kisahnya;

Tunjukkanlah kepadaku amal perbuatan yang dengan amal itu hatiku bisa bersama dengan swt secara terus menerus!’’

Janganlah kamu melihat kepada makhluk karena hal itu merupakan kegelapan’’ sang wali memberikan jawaban.

Aku tidak bisa menghindar dari hal itu!’’ aku mengulangi menjawabku yang pertama.

Kemudian janganlah kamu bergaul dngan mereka karena bergaul dengan mereka merupakan sebuah kesulitan’’ kata si wali.

Aku hidup bersama mereka. Aku tidak bisa menghindar dari bergaul terhadap mereka’’ jawabku seperti orang protes.

Janganlah kamu bertempat bersama mereka karena bertempat bersama mereka adalah suatu kebiasaan’’. Untuk kesekian kalinya sang wali memberikan jawaban.

Apakah itu semua terjadi karena suatu sebab’’ tanyaku.

Wahai, si anak! Apakah mungkin terjadi kehendak hatimu yang ingin selalu terus-menerus bersama allah swt namun kamu masih melihat kepada orang-orang yang lalai dan kamu mendengar perkataan orang-orang bodoh serta bergaul dengan orang-orang yang berbuat batil? Mustahil keinginanmu itu akan terwujud untuk selama-lamanya!’’ jawab sang wali.

Pengertian Wali Allah – Kisah UWAIS AL-QARANI WALIYULLAH

Ketika sayyidina umar bin khattab r.a memegang jabatan sebagai khalifah, ia berkata;

Hai manusia! Siapakah di antara kamu yang berasal dari Negara irak, maka berdirilah’’

Semua hadirin yang berasal dari irak dalam majlis beliau pun  berdiri. Setelah semua brdiri maka beliau memberi perintah lagi;

Duduklah, selain orang yang berasal dari kota kufah!. Barulah orang-orang yang tidak berasal dari kota kuffah dduduk kembali.

Tidak lama kemudian sayyidina umar menyambung perkataannya;

Duduklah semua, kecuali yang berasal dari suku marad!’’

Mereka yang berasal dari suku marad pun duduk. Lantas sayyidina umar kembali memberikan perintah untuk kesekian kalinya;

Duduklah kalian semua, kecuali orang yang dari suku qaran!’’.

Mendengar perintah itu, mereka yang tidak berasal dari suku qaran pun lantas duduk mematuhi perintah kholifah dan yang tersisa hanya satu seorang lelaki saja, ia tetap bediri.

Perintah umar pun bertanya kepada lelaki itu;

Apakah kamu orang qaran?’’

Ya, benar! Wahai amirul mukminin” jawabnya.

Apakah engkau kenal uwais bin amir al-qaran?’’ beliau umar r.a bertanya lagi seraya menyebutkan sifat dan perangai uwais yang di maksud kepada lelaki tersebut.

Ya, saya kenal!’’ lelaki itu menjawab.

Apakah yang akan engkau tanyakan tentang orang tersebut, wahai amirul mukminin? Lanjutnya.

Demi Allah, tidak adak pada golongan kami orang yang lebih dungu di bandingkan dirinya, yang lebih gila, yang lebih liar dan yang lebih hina daripadanya!!’’ laki-laki itu menambahkan perkataannya.

Di keadaan yang lain, sayyidina umar hanya menangis setelah mendengar penuturan si laki-laki itu.

Supaya lelaki qaran itu tidak terus penasaran maka sayyidina umar lekas memberikan jawaban;

Sebetulnya, aku tiada hendak melontarkan apa yang telah akukatakan itu. Hanya saja, aku pernah mendengarkan rasulullah saw sedang menceritakan uwais. Menurut beliau, uwais akan termasuk orang yang mendapatkan syafaatnya sebagaiman halnya rabi’ah dan mudlar’’.

Dalamkisah lanjutan ada tertulis bahwa harim dan hayyam berkata;

Setelah aku mendengar perkataan tersebut dari umar bin khattab maka aku memutuskan untuk pergi ke kufah.

Tak ada tujuan apapun selain mencari seorang yang bernama uwais al-qarani.

Sesampainya di sana, aku mondar-mandir dan lalu lalang bertanya kepada orang-orang di manakah uwais al-qarani berada.

Hingga akhirnya, aku menjumpainya saat sedang duduk di tepi sungai furat pada waktu tengah siang.

Di sana dia sedang mengambil air wudlu hendak melaksanakan sholat serta untuk mencuci kainnya.

Aku mengetahui bahwa dia adalah uwais sebab aku telah mengenalnya dari beberapa sifat yang sudah di terangkan oleh salah seorang penduduk kepadaku.

Ketika aku sudah berada di hadapannya ternyata dia adalah sosok lelaki yang berbadan gemuk, sangat keras kulitnya, terpangkas rambut kepalanya, tebal janggutnya, mukanya tidak menyenangkan dan auranya menakutkan.

Itu semua tidak lantas memaksaku mundur dan pulang begitu saja bahkan sebaliknya, lekas aku memberi salam kepadanya.

Seperti manusia lain pada umumnya, salamku di jawab olehnya. Kemudian ia mengarahkan tatapannya kepadaku.

Saat itu, aku mencoba untuk memulai percakapan;

Semoga penghormatan seorang lelaki di sampaikan oleh Allah ke padamu!’’

Kemudian aku mengulurkan tangan sebagai tanda ingin berjabatan tangan dengannya.

Namun, keanehan mulai terasa, ia enggan untuk berjabat tangan denganku. Maka aku pun berkata;

Semoga Allah mencurahkan rahmat dan mengampunimu, wahai uwais! Bagaimanakah kabarmu?”

Suasana dalam sejenak terasa hening, waktu seakan terasa tidak lagi berputar. Aku tertegun, diam termangu dan kesadaranku seakan hanyut dalam perhatian kepadanya.

Setelah aku berdoa untuknya tiada lain yang dapat aku lakukan melainkan lebih hikmat memperhatikannya.

Dengan melihat keadaan uwais seperti ini yang tidak pernah aku saksikan pada orang lain, lambat laun kecintaan dan kasih hatiku

kepadanya memaksaku berkata dengan derasnya air mata. Sedu sedan tangisku tak dapat terhindarkan demikian juga uwais, ia membalas tangisku dengan tangisan.

Dan pada akhirnya, uwais pun mau melontarkan perkataan;

Dan engkau, wahai harim bin hayyam! Semoga Allah menyampaikan penghormatan kepadamu! Bagaimana kabarmu, wahai saudaraku? Siapakah yang menunjukkan jalan kepadamu untuk bisa datang ketempatku?”

Allah!’’ singkat saja aku menjawab.

Tiada yang di sembah selain Allah, maha suci Allah! Sesungguhnya, kalau tuhan kita berjanji ia akan melaksanakannya’’ kata uwais.

Bagiku, perkataan uwais dari tadi terdengar biasa saja. Namun yang membuat aku heran adalah ketika ia mengenaliku.

Padahal, demi Allah, aku belum pernah melihatnya sebelum itu dan ia belum pernah bertemu denganku. Untuk itu maka aku pun bertanya;

Dari mana engkau mengenal namaku beserta nama ayahku? Sedangkan aku belum pernah melihatmu sebelum hari ini!’’

Telah di beritahukan kepadaku oleh yang maha tahu dan maha mengerti, bahwa ruhku mengenal ruhmu ketika jiwaku berkata kepada jiwamu. Sesungguhnya ruh-ruh itu mempunyai jiwa sebagaimana tubuh juga memiliki jiwa. Dan sebetulnya, orang-orang mukmin itu salingmengenal antara satu dengan yang lainnya. Dengan kecintaan allahnmereka saling berbagi kasih walaupun mereka belum pernah bertemu. Mereka sudah saling mengenal dan saling bercakap-cakap walaupun kampong mereka berjauhan dan tempat tinggal mereka tidak berdekatan’’, dengan panjang lebar uwais menjelaskan.

Riwayatkanlah kepadaku sebuah hadits dari rasulullah saw, yakni suatu hadits yang akan aku dengar darimu! Semoga engkau di curahkan rahmat oleh Allah’’ pintaku kepadanya.

Sesungguhnya aku tiada menjumpai rasulullah saw. Dmi bapak dan ibuku, aku tiada mempunyai teman yang pernah bersama rasulullah saw. Akan tetapi, aku melihat orang-orang yang telah menemani rasulullah saw dan mereka menyampaikan kepadaku dari haditsnya sebagaimana mereka menyampaikan kepadamu.

Sebenarnya aku tidak suka untuk menjadi perawi hadits, mufti atau pun qadli.  Aku mempunyai kesibukan diri, yaitu menjauh dari manusia, wahai harim dan hayyam!’’ Kata uwais kepadaku.

‘’hai saudaraku! Bacalah untukku sebuah ayat alqur’an yang akan aku dengar darimu! Dan doakanlah aku dengan bermacam-macam dan serta berilah aku nasehat yang akan aku hafal nasehat itu darimu! Sesungguhnya aku sangat mencintamu karena Allah”. Aku mencoba meminta lagi.

Kali ini uwais tidak langsung memberikan jawaban sebagai mana barusan hanya saja ia berdiri dan memegang tanganku untuk di ajak pergi ke tepi sungai fusat. Di sana ia membaca;

Sudah, sampai di situ saja ia tidak mau melanjutkan bacaan nya lagi. Malah, kini ia menangis dan bberkata kepadaku;

Tuhanku berfirman. Yang benar itu firman tuhanku. Perkataan yang terbenar adalah perkataannya dan kalam yang terbenar ialah kalamnya’’.

Setelah berucap demikian barulah ia membacakan surat ad-dukhan ayat 83-42 kepadaku yang artinya;

Dan tidaklah kami jadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya sekedar untuk main-main saja. Dan keduanya tidaklah kami jadikan melainkan dengan tujuan yang benar. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Sesungguhnya hari keputusan itu adalah waktu yang di janjikan untuk mereka semuanya. Pada hari itu, seorang sahabat tidak dapat menolong sahabatnya sedikitpun dan mereka tidak akan mendapat bantuan kecuali orang yang mendapat rahmat dan tuhan. Sesungguhnya dia maha kuasa dan maha penyayang’’.

Tetapi setelah membaca ayat itu, uwais mendadak berteriak dengan suara keras sampai-sampai aku menyangka bahwa ia akan jatuh pingsan. Namun sangkaan keliru, ia malah lanjut menasehatiku;

Hai anak hayyan! Bapakmu, hayyan, sudah meninggal. Dan dalam waktu dekat engkau pun akan meninggal. Setelah itu adakalanya engkau ke surge dan adakalanya ke neraka. Bapakmu, adam, telah meninggal dan ibumu, hawa, juga telah meninggal. Nuh sudah meninggal. Ibrahim khalilur Rahman sudah meninggal. Dan Muhammad saw rasul tuhan alamin sudah meninggal. Abu bakar khalifatulmuslimin sudah meninggal. Dan umar bin khattab, saudaraku dan pilihanku sudah meninggal’’.

Wahai umar! Wahai umar!’’ ia memanggil-manggil

Semoga Allah mencurahkan rahmat kepadamu! Sesungguhnya umar itu belum meninggal’’. Aku mencoba membenarkan perkataan uwais.

Sesungguhnya, tuhanku telah memberi tahu kepadaku akan berita kematiannya dan berniat kematianku’’ uwais menyangkalku.

Aku dan dirmu dalam kematian seakan-akan meninggal itu sudah terjadi’’. Sambungnya.

Seperti orang yang tidak mengerti, kali ini aku benar-benar tidak mampu untuk menjawabnya lagi. Kemudian, ia membaca doa sholawat

kepada baginda nabi saw dengan doa-doa yang samar dan tidak begitu terdengar. Dan selesai ucapkan doa syalawat ia berkata lagi;

inilah wasiatku! Jagalah dan ikutlah kitab Allah serta jalan terangnya orang-orang salih yang beriman! Sesungguhnya aku mengkhabarkan berita kematianku kepada diriku sendiri dan dirimu.

‘’Haruslah kamu terus mengingatmati selama masih hidup. Jangan sampai mengingat mati terlepas dari hatimu walaupun hanya sekejap mata! Dan berikanlah peringatan kepada kaummu apabila kamu sudah kembali kepada mereka! Nasihatilah ummatmu sekalian! Janganlah engkau bercerai dengan jama’ah walaupun hanya sejengkal! Sebab meninggalkan jama’ah akan menjdikan agamamu tercerai berai saat kamu tidaklah mengetahuinya. Lantas oleh sebab itu, tahu-tahu kamu akan masuk neraka di hari kiamat kelak. Berdoalah untukku dan untuk dirimu!’’

Kemudian uwais membaca doa;

“Wahai Allah, tuhanku! Orang ini mengatakan bahwa ia mencintaiku karenamu. Ia berkunjung kepadaku karenamu. Maka perkenalkanlah padaku wajahnya kelak dalam surge! Masukkanlah ia atas tanggunganku dalam negerimu yakni negeri tempat keselamatan. Jagalah ia selama ia berada dalam dunia, dimana pun ia berada! Lapangkanlah harta untuknya! Ridhoilah atas apa yang engkau berikan kepadanya maka mudahkanlah dengan semudah-mudahnya segala urusannya! Dan jadikanlah ia atas apa yang telah engkau berikan kepadanya menjadi sebagian dari golongan orang-orang yang bersyukur! Balaslah dia dengan balasan yang sebaik-baiknya!’’

Doa yang begitu mengharukan dan menyejukkan. Sementara diriku masih saja terdiam memperhatikan. Uwais al-qarani pun meneruskan perkataannya;

“aku titipkan dirimu kepada Allah SWT, wahai harim bin hayyan! Semoga salam dan rahmat Allah tercurah kepadamu. Aku tidak akan melihatmu lagi sesudah hari ini. Kiranya Allah mencurahkan rahmat kepadamu.

Sesungguhnya engkau mencariku namun aku tidak suka terkenal, aku lebih suka sendirian. Selama masih hidup aku banyak merasakan duka cita dan sangat bersedih hati ketika bersama manusia.

Maka janganlah engkau tanyakan aku dan janganlah engkau mencariku! Ketahuilah, bahwa engkau sudah ada dalam bagian hatiku walaupun aku dan dirimu sudah tidak lagi saling bertemu. Maka ingatlah akan diriku serta sematkan diriku dalam doamu!

Sesungguhnya, aku akan mengingatmu dan mendoakanmu. Pergilah kamu kea rah sana dan aku akan pergi kea rah situ’’.

Demikian lah uwais berpesan dan meminta. Dan sungguh sebenarnya aku masih sangat ingin berjalan bersanding bersama nya walau hanya untuk sesaat saja namun itu semua tidak lebih hanya sekedar keinginan belaka, ia enggan berlama-lama untuk bersama dengan ku.

Maka aku berpisah dengannya. Uwais al qarani menangis dan aku pun juga menangis. Tiada hentinya pandanganku mengiringi langkah kepergiannya sebab pada hati terdalam aku masih tidak ingin berpisah darinya.

Semakin jauh berjalan, uwais pun semakin tidak Nampak dalam pandangan sampai akhirnya ia benar-benar hilang saat melusuri sebuah jalan.

Sesudah kejadian itu, aku mencoba bertanya tentang kabarnya namun taka da seorangpun yang mengetahuinya. Kiranya Allah mencurahkan rahmat dan mengampunkan dosanya!’’.

Nah, itulah beberapa istilah atau pengertian simpel tentang Pengertian Wali Allah beserta kisah kisah para wali Allah yang sudah terkenal di dunia. Semoga bermanfaat.

¹

kata bijak terbitan press Lirboyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *