Pengertian Ghibah Menurut Islam Pintarbaca.Com Sudah tahu dosa ghibah? Atau ingin tahu contoh ghibah yang diperbolehkan?

Telah banyak kumpulan hadist Nabi yang membicarakan tentang bahaya ghibah dan fitnah beserta cara menghindari ghibah yakni dalam acara kultum ghibah singkat yang sudah tayang di media.

Ghibah adalah memperbincangkan orang lain atau menggunjing dengan topik yang tidak di sukai bila mana orang yang di perbincangkan mengetahuinya.

Orang yang menggunjing dalam syari’at di ibaratkan seperti memakan bangkai orang lain yang di gunjingnya.

Sedangkan untuk batas supaya termasuk orang yang menggunjing, ialah apabila kita menyebut sesuatu yang bisa menimbulkan kebencian atau kemarahan saudara kita andaikan ia mendengarnya, baik yang di bicarakan berhubungan dengan cacatnya anggota fisik, keturunan, budi pekertinya, perbuatan, perkataan, agama, atau duniawinya bahkan termasuk juga memperbincangan pakaiannya, rumahnya dan kendaraannya sekalipun.

Contoh gunjingan yang berkenaan dengan cacatnya fisik seseorang ialah seperti kita mengatakan: dia itu rabun, juling, botak, cebol, tinggi, hitam, kuning dan sifat-sifat lainnya sekira orang yang di gunjing itu mendengarnya dia akan merasa tidak suka atau marah.

Pengertian Ghibah Menurut Islam

Pengertian Ghibah Menurut Islam

Ghibah Contohnya

Mengenai kekurangan-kekurangan dalam rusan nasab keturunan ialah seperti kita mengatakan: bapaknya seorang fasik, jahat dan buruk sikapnya, bapaknya kuli penimba air atau ungkapan lain sekira dapat menyebabkan orang yang di gunjing marah dan benci.

Mengenai kekurangan-kekurangan yang berhubungan dengan bentuk dan rupa seperti kita mengatakan: ia buruk rupa, kikir, sombong, congkak, suka bermegah diri, pemalas, penakut, kuranghati-hati dan lain sebagainya.

Adapun contoh gunjingan yang terkait kekurangan-kekurangannya berupa perbuatannya dalam beberapa pekerjaan adalah perkataan kita: ia itu seorang pencuri, penipu, pembohong, pengkhianat, zalim suka meninggalkan sholat, tidak mau zakat, mengabaikan najis, mendurhakai orang tua dan lain sebagainya.

Sedangkan dari sisi perbuatan, seperti kita mengatakan: dia itu kurang beretika, meremehkan sesame, banyak bicara, banyak makan, suka tidur di sembarang tempat.

Mengenai pakaian seperti kita mengatakan: lengan bajunya terlalu besar, lengan bajunya terlalu panjang, bajunya kotor dan lain sebagainya.

Ghibah atau mengumpat, tersarikan dari hadits Rasulullah sae berikut: ghibah itu ketika kamu menuturkan perihal apapun dari orang lain yang mana dia tidak menyukainya.

Terkait hokum, ghibah haram hukumnya dan keharaman menuturkan ghibah dengan lisan, alasannya, sebab di dalam ungkapan ghibah ada arti tersirat sehingga orang yang menjadi pendengar akan memiliki kepahaman bahwa seseorang yang di jadikan bahan perbincangan memilik suatu cacat.

Oleh karena itu, mengungkapkan sebuah kata sindiran itu sama seperti berkata secara terang-terangan. Dan supaya jangan salah paham, haruslah kita ketahui  bahwa ada dua cara dalam mengungkapkan ghibah yakni dengan perkataan dua isyarat.

Pendek kata, apa saja yang menunjukkan kepada maksud ghibah atau mengumpat, maka hal itu dilarang  dan di hukumi haram.

Jadi orang yang mengisyaratkan dengan tangannya perihal pendek atau tingginya orang lain, atau pun ia meniru-niru tentang gaya berjalannya orang lain, maka itu juga termasuk ghibah yang di larang.

Menulis mengenai aib seseorang juga termasuk ghibah, sebab tulisan statusnya adalah alat yang menjadi ganti dari lisan.

Baca juga:

Pengertian Wali Allah Menurut Islam Beserta Kisahnya
Cara Bertaubat yang Benar Menurut Ajaran Islam

Pengertian Ghibah Menurut Islam – PENEBUS DOSA dari GHIBAH

Pengertian Ghibah Menurut Islam

Pengertian Ghibah Menurut Islam. Ketahuilah, wajib hukumnya  bagi seorang pngumpat untuk segera menyesali kesalahannya, sgera bertaubat dan merasa sedih atas perbuatannya supaya terselamatkan dari balasan Allah SWT.

Setelah seperti itu hendaknya ia meminta maaf kepada orang yang di umpatnya, serta meminta halal atau kerelaan atas perbuatan yang telahdilakukannya supaya dosa ghibah lekas terhapuskan.

Hanya saja, meminta maaf wajib dilakukan kalau memang dia mampu untuk melakukannya serta tidak merasa khawatir akan terjadi sesuatu yang membahayakan dirinya.

Imam al hasan sedikit memberikan keringana, bagi seorang pengumpat kiranya sudah cukup dengan beristigfar saja atau memohon ampunnan kepada Allah SWT serta tidak perlu untuk meminta maaf kepada orang yang di gunjingkannya.

Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda; apakah kamu sekalian tidak mampu berbuat seperti yang dilakukan oleh abu dham-dham.

Tiap kali keluar dari rumah maka tidak lupa dia untuk mngucapkan doa, ya Allah! Ya tuhanku! Saksikanlah bahwasannya aku telah mensedekahkan kehormatanku kepada khalayak ramai.

Maksudnya, di hari kiamat dia tidak akan menuntut balasan kepada siapapun yang melakukan penganiayaan atas dirinya, dan tidak akan mengadukannya.

Namun demikian, perkataan abu dhandam ini tidak berarti dirinya memperbolehkan orang-orang lain untuk mengumpatnya dengan sesuka hati, akan tetapi maksudnya adalah dia telah memaafkan dosa orang yang mengumpatnya.

Allah telah berfirman; jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang yang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh’’.

Dalam sebuah hadist di tuturkan bahwa malaikat jibril berkata kepada Rasulullah SAW.

“Sesungguhnya Allah ta’ala memerintahkan supaya dirimu memaafkan orang yang menganiayamu dan supaya menyambung ikatan kepada orang yang telah memutuskan ikatan denganmu serta tetap memberi kepada orang yang enggan memberi kepadamu’’.

Pengertian Ghibah Menurut Islam – Sebab – Sebab atau PERKARA YANG MENDORONG PERBUATAN GHIBAH

Pengertian Ghibah Menurut Islam

Ada beberapa sebab yang mendorong seseorang untuk menggunjing di antaranya;

Pertama; untuk memuaskan hati. Hal ini pemicunya adalah amarah, karena manusia tatkala sedang berkobar api amarahnya niscaya hatinya akan merasa puas bila ia dapat mengungkapkan keburukan-keburukan orang yang di marahinya itu.

Dan lumrahnya, tanpa di sadari lidah orang marah itu akan menyebut berbagai macam bentuk perkataan jelek kalau memang orang lain tidak mampu mengendalikan amarahnya dengan jiwa agamisnya.

Dalam kejadian lain, ada juga seseorang yang dapat mengendalikan dirinya saat ia terjebak dalam jerat kemarahan akan tetapi ia menahan dalam hatinya sehingga lambat laun amarah itu akan membeku dalam hati sampai akhirnya amarah tersebut berganti rupa menjadi dengki dan dendam khusumat.

Kedua;  pengaruh pergaulan dan gemar membantu teman sepergaulan dalam memperbincangkan perihal orang lain. Seringkali terjadi pada diri seketika teman sejawatnya sedang asik menuturkan aib-aib orang lain maka ia mengalami posisi di lema, menjadi serba salah.

Andaikata ia ingkar atas kelakuan semacam itu ataupun ia meninggalkan majlis mereka, tentulan teman-temannya akan merasa kurang senang terhadapnya dan mereka akan mengacuhkannya.

Namun pada akhirnya, ia akan lebih mmenuruti kemauan teman-temannya malah terkadang sesekali ia juga ikut memberikan sumbangan kalimat-kalimat celaan dan umpatan.

Pada anggapannya, sikap itu ia ambil semata-mata demi menjaga buhungan baik antara dia dan kawan-kawannya.

Tetapi tanpa di sedarinya, sebetulnya ia telah terbawa arus ke dalam bahaya dosa karena mengumpat parahnya, terkadang ia mencoba tega ikut serta menampakkan amarah terhadap orang yang di pergunjingkan itu, ketika mengerti bahwa teman-temannya sedang meluahkan kemarahan terhadap orang yang di tuju.

Dan ini ia melakukan dengan alasan untuk membuktikan simpatinya kepada mereka dalam suka dan suka.

Sekalipun demikian adanya, nyatalah seseorang orang lain, telah terlibat dalam perbuatan dosa, yakni menggunjing orang lain , dengan menyebut aib da n keburukan-keburukannya.

Dan muara petaka yang ia alami penyebabnya adalah kesalahan dalam pergaulan.

Ketiga; gemar menampakkan kelebihan pribadinya lewat kemegahan dan keistiewaan  yang ia miliki, semisal membandingkan social bahwa dirinya lebih mulia dan tinggi dari si fulan atau si fulan.

Ke empat; hasud dan iri hati. Hasud biasanya mudah muncul dalam diri seseorang karena dirinya merasa panas telinga bila mendnegar orang lain di puji-puji atau di sanjung oleh khalayak ramai.

Dan bisa saja seseorang itu hasud pada penyebab di hormati dan di mulyakannya orang lain itu hingga pada akhirnya orang hasud ini merasa bosan terhadapnya.

Tidak bisa di pungkiri lagi, bila ia tetap dalam sikap seperti itu maka bukan hal mustahil perasaan dengki dan hasud akan menjadi watak kuat di dalam hatinya.

Efek selanjutnya, orang hasud ini akan mencoba berbagai macam cara untuk melenyapkan kenikmatan yang di miliki oleh orang lain dan umpama ia tidak berhasil dalam usahanya menghilangkan kenikmatan orang lain itu mka sikap terakhir yang ia plih adalah mencela atau menggunjing.

Tujuan ia bersikap demikian adalah sikap khalayak ramai berhenti dari memuji-muji atau menghormati orang yang ia cela atau gunjing itu jiwanya yang tidak tahan serta tidak siap untuk mendengar egala pujian dan penghormatan khalayak ramai kepada orang yang ia cela atau gunjing menjadikannya tega meninggalkan fikiran normalnya.

Kelima; sengaja hadir dalam suatu perkumpulan atau senda gurauan yang di dalamnya di sebutkan keburukan atau aib orang lain untuk kemudian di jadikannya bahan tawaan dan lelucon tidak hanya itu saja, sebagian besar waktunya, ia habiskan dengan tertawa ria itu.

Keenam; mengejek dan mencomooh orang lain dengan tujuan untuk merendahkan atau menghinanya. Pemicunya ialah sifat takabur, serta memandang semua orang lain rendah, menilai hina dan menganggap mereka bodoh.

Selain yang tersebut di atas tadi, masih ada banyak lagi sebab-sebab yang bisa mendorong manusia ke lembah  hinanya ghibah, serta pokok yang mendasarinya adalah bisikan setan dan hasutannya.

Pengertian Ghibah Menurut Islam – CARA MENGOBATI PENYAKIT LISAN dari GHIBAH

Pengertian Ghibah Menurut Islam

Ketahuilah bahwasannya segala keburukan – keburukan akhlak, dan kelakuan yang keji dapat dipulihkan dengan sari dan inti ilmu pengetahuan serta pengamalannya.

Adapun penawar untuk meredakan penyakit lidah berupa mengumpat, secara ringkas, adalah;

Hendaklah seseorang menyadari, bahwa gemar mengumpat akan membawa dirinya pada hebatnya murka Allah ta’ala.

Tegasnya, bila ia menggunjing sama halnya dia telah melanggar perintah atau larangan Allah ta’ala.

Maka kalau memang seseorang itu percaya secara penuh atas hadits-hadits yang menjelaskan larangan ghibah, hendaklah ia menjaga lidahnya dari gunjingan, dengan maksud supaya tidak terjerumusdalam lembah dosa.

Suatu cara lain yang berguna baginya ialah dengan mnyadari diri sendiri terlebih dahulu apakah betul dirinya telah lepas dari keburukan, aib, atau jangan-jangan malah sebaliknya.

Kalau ternyata dalam dirinya ada aib atau keburukan, tentulah yang lebih utama baginya adalah memperbaiki diri sendiri dari pada memperbincangkan keburukan orang lain.

Rasulullah SAW telah bersabda: betapa beruntungnya orang yang sibuk untuk membenahi aib diri sendiri sampai ia lupa untuk menyebut-nyebut keburukan orang lain.

Apabila pada diri seseorang terdapat sesuatu keburukan maka sudah sepatutnya ia merasa malu sebab keburukan itu pertanda ia telah lalai untuk membetulkan diri sendiri dan selayaknyaia merasa malu untuk menjelek – jelekan orang lain sebab kenyataannya dalam dirinya lah kejelekkan  itu bertempat.

Bahkan yang lebih pantas baginya adalah menganggap kelalaian orang lain sehingga mereka tidak sempat berbenah diri, sebagai kelalaiannyasendiri.

Dalam masalah seperti ini, mencela aib atau keburukan yang ada pada diri orang lain, barangkali termasuk penyakit yang tarafnya masih bisa untuk di carikan obatnya dan termasuk dosa yang masih bisa untuk di carikan penebusnya.

Hal itu kalau memang aib atau keburukan dalam diri orang yang ia cela muncul atas kehendak mereka sendiri.

Namun, kalau ternyata aib atau keburukan dalam diri orang yang ia cela  adalah dari asalnya atau dengan kata lain adalah bawaan semenjak lahir maka mencelanya sama seperti telah mencela tuhan yang menciptakan.

Dan lebih jauh lagi harus di sadari bahwa barang siapa mencela suatu ciptaan maka sama artinya ia telah mencela yang menciptakan na’udzu billahi min dzalik!.

Sebaliknya, apabila seseorang hamba mendapati dirinya jauh dari pada aib atau keburukan maka selayaknya ia bersyukur bahwa Allah SWT telah menjaganya dari  segala sifat-sifat yang tidak baik itu.

Cobalah seorang hamba untuk tidak mengotori diri dengan melakukan kejelekan –kejelekan yang amat tercela di kemudian hari semisal tidak melakukan ghibah.

Sebab mencela atau mengumpat orang lain di umpamakan seperti memakan bangkai manusia dan hal ini termasuk dari jenis dosa yang paling berat.

Di sisi lain, andai kata seorang hamba mau lebih jauh memandang dirinya sendiri dalam sejenak waktu dan saat situasi yang tenang, niscaya perlahan akan tumbuh kesadaran dalam hatinya bahwa anggapan dia orang suci, dia manusia yang jauh dari segala keburukan adalah salah.

Sebaliknya, sikapnya yang mudah mencela orang lain dan gemar mengumpat adalah bukti kuat ternyata dia masih belum sepenuhnya mengenal diri sendiri.

Bagi siapapun  orangnya hendaklah jangan sampai lupa bahwa termasuk dari dosa yang berat adalah menganggap diri sendiri tidak pernah melakukan kesalahan.

Cara lain untuk menjaga diri dari ghibah adalah dengan menanam kesadaran mendasar.

Seseorang harus menyadari betul bahwa pihak yang di celanya itu juga punya hati dan perasaan.

Cobalah sadari, kalau dia merasakan pedih dalam hatinya ketika ada yang mencela maka demikian pula dngan orang lain.

Kalau dia merasakan sesak dalam dadanya ketika ada yang menggumpat maka begitu juga dengan orang lain.

Pengertian Ghibah Menurut Islam – Dosa dan SIKSA BAGI si PENGUMPAT atau Ghibah

Pengertian Ghibah Menurut Islam

Kumpulan hadits tentang ghibah:

Anas berkata: Rasulullah SAW bersabda; pada saat malam  aku di isra’kan, aku melewati beberapa kaum yang mencakar mukanya sendiri dengan kukunya. Kemudian aku bertanya: hai Jibril! Siapakah mereka itu?.

Jibril menjawab: mereka itu adalah orang-orang yang mengumpat manusia dan terlanjur merusak kehormatan orang dengan memperbincangkannya.

Pengertian Ghibah Menurut Islam – TEGURAN NABI Kepada Si PENGGUNJING atau Ghibah

Mu’az bin jabal r.a mengatakan, bahwa di tuturkan kepada Rasulullah SAW tentang sifat seorang laki-laki.

Mereka mengatakan; alangkah lemahnya laki-laki itu!’’

Nabi SAW menjawab: kamu telah mengumpat saudaramu’’.

Mereka berkilah; wahai Rasulullah! Kami mengatakan apa adanya’’.

Nabi SAW menanggapi; bila kamu mengatakan apa yang tidak ada itu artinya kamu telah berbuat dusta kepadanya.

Di riwayatkan dari amir bin wasilah, suatu ketika pada masa hidup Rasulullah SAW ada seseorang lelaki yang kebetulan lewat di suatu perkumpulan.

Lelaki itu lantas tadi pergi dari mereka, tiba-tiba saja salah seorang dari pada mereka berkata;

‘’ sesungguhnya aku sangat marah pada orang tadi karena Allah.

Namun ada satu orang dari hadirinmencoba untuk membela lelaki asing tadi; ‘’ sesungguhnya buruklah apa yang kamu katakana itu! Demi Allah, hendaknya engkau apa yang engkau katakana itu!.

Cerita terus berlanjut, semua hadirin sepakat untuk mengirimkan peruntusan untuk menemui lelaki asing barusan yang kini sedang menjadi bahan perbincangan.

Mereka berkata kepada utusannya itu; hai! Bangunlah! Jumpailah lelaki tadi dan terangkanlah kepadanya apa yang baru saja telah di katakana oleh salah seorang perkumpulan ini!

Supaya tidak menunda waktu, peruntusan itu langsung berangkat dan setelah berhasil menjumpai lelaki asing yang di cari maka ia pun menceritakan apa yang dikatakan oleh salah seorang anggota majlisnya.

Entah apa yang ada di dalam benaknya, lelaki asing ini malah langsung pergi dan menemui Rasulullah SAW serta mengadukaan perkataan yang di tujukan oleh salah seorang anggota majlis yang ia lewati tadi.

Tidak hanya itu saja, lelaki itu juga meminta supaya Rasulullah SAW memnggil orang yang telah membicarakannya itu.

Layaknya seorang pemerintah yang mendapatkan laporan dari rakyatnya maka seketika itu juga Nabi pun memanggil pihak yang di adukanya.

Selang beberapa waktu kemudian datanglah orang yang di adukan kepada rasulullah. Karena yang hadir kala itu telah lengkap yakni beliau Nabi, lelaki asing sebagai pengadu dan orang di majlis yang di adukan maka langsung saja beliau Nabi memulai pertanyaan kepada orang yang di adukkan guna mengetahui hal yang sesungguhnya.

Orang itu menjawab; sesungguhnya aku memang mengatakan demikian’’.

Rasulullah bertanya lagi: “mengapa engkau marah kepadanya?’’

Ia pun menjawab: “aku tetangganya dan aku mengetahui perangainya. Demi Allah! Aku tidak pernah melihatnya mengerjakan shalat selain dari  shalat fardhu saja’’.

Saat Nabi belum bertanya, lelaki pengadu langsung menungkas. ‘’wahai Rasulullah! Tanyakanlah kepadanya, adakah ia melihat aku mengakhirkan shalat dari waktunya? Atau aku tidak benar dalam mengambil whudlu? Atau rukuk atau sujuddalam shalat itu?.

Lalu rasulullah saw menanyakan yang demikian itu kepada orang yang di adukan.

Orang itu menjawab; tidak!’’

Lantas ia meneruskan perkataannya: “Demi Allah! Aku tidak pernah melihatnya berpuasa kecuali dalam bulan ramadhan yang dilaksanakan oleh semua orang baik orang zalim’’.

Lelaki asing yang mengadu kepada Nabi berkata lagi; wahai Rasulullah! Tanyakanlah kepadanya, apakah ia melihat aku sesekali tidak berpuasa pada bulannya? Atau aku mengurangi walaupun sedikit daripada hak puasa itu?.

Untuk itu, Rasulullah SAW pun bertanya kepada orang yang di adukan dan orang itu menjawab: “demi Allah! Sekalipun aku tidak pernah melihatnya memberi kepada orang yang meminta – minta dan orang miskin. Dan aku tidak pernah melihatnya mengarahkan sesuatu dan hartanya di jalan Allah selain dari pada zakat sementara kalau hanya sekedar zakat, orang baik dan orang zalim pun bisa melakukannya’’.

Lelaki asing it uterus membela ; ‘’tanyakanlah kepadanya wahai rasulullah! Pernahkah dia melihat aku mengurangi zakat itu? Pernahkah dia melihat diriku telah melakukan aku tawar menawar dengan orang yang mencari zakat atau memintannya?’’

Sebagai pengakhir, Rasulullah SAW bertanya kepada orang yang di adukan dan dia pun menjawab ; tidak!’’

Masalah sudah jelas, Rasulullah SAW tidak berkata apa lagi selain memberikan teguran secara tidak langsung kepada orang yang di adukan oleh lelaki asing itu.

Beliau bersabda ; berdirilah! Barang dia itu lebih baik darimu!.

Pengertian Ghibah Menurut Islam – Puasanya orang yang MENGGUNJING

Pada suatu hari, Rasulullah SAW menyuruh para sahabatnya supaya berpuasa. Lalu beliau bersabda; jangan ada seorang pun yang membatalkan puasanya sebelum aku memberikan izin’’.

Sebab Nabi telah berkata demikian maka mereka pun ber puasa hingga saat hari sudah petang.

Ktika itu, ada laki-laki dating kepada Rasulullah sawseraya berkata; wahai Rasulullah! Aku trus berpuasa, izinkanlah aku berbuka!.

Mendengar laporan seperti itu, Nabi pun memberikan izin untuk berbuka. Dan tidak lama kemudian dating lagi seorang demi sampai pada akhirnya datanglah seorang lelaki seraya berkata;

Wahai Rasulullah! Dua orang anak gadis dari keluargamu terus menerus berpuasa. Mereka malu untuk dating kepadamu. Maka izinkanlah keduanya supaya berbuka puasa!.

Kali ini beliau Rasulullah saw satu katapun tidak ungkapkan melainkan beliau langsung berpaling muka dari orang itu.

Karna merasa belum  ada jawaban maka lelaki itu mengulangi kembali permiintaan izinnya.

Dan sontak saja rasulullah saw menoleh serta memberikan komentar; kedua perempuan itu tidak berpuasa, bagaimana bisa di katakana berpuasa sementara sejak dari siang mereka memakan daging manusia. Ketahuilah! Kalau memang benar mereka berpuasa maka suruhlah agar keduanyamuntah!’’

Dengan kepala tertunduk, laki-laki trsebut kembali pulang untuk brjumpa dengan kedua anak gadis itu.

Sesampainya di rumah dia pun menyampaikan kepada keduanya atas apa yang di perintahkan oleh Rasulullah SAW.

Dan benar saja, setelah kedua perempuan itu muntah maka yang keluar dari mulutnya adalah sepotong darah beku.

Tidak sampai di siitu, laki-laki itu kemudian menemui Nabi SAW lantas menceritakan apa yang barusan telah ia saksikan.

Atas kejadian itu, Rasulullah SAW menegaskan: demi Allah, yang nyawaku berada dalam kekuasaannya! Kalau saja darah beku it uterus berada dalam perut mereka niscaya keduanya akan menjadi makanan api neraka.

Dalam riwayat lain dengan kisah yang senada, tertulis bahwa saat Rasulullah SAW pergi dari lelaki tersebut kemudian ia datang kembali seraya berkata;

Wahai Rasulullah! Demi Allah! Sesungguhnya kalau anak gadis itu sudah meninggal atau hampir meninggal.

Dengan nada tenang, Nabi SAW meminta; bawalah ke sini kedua perempuan itu!.

Dan tidak butuh waktu lama, akhirnya kedua anak gadis itu datang. Maka Rasulullah SAW pun meminta gellas seraya bersabda kepada salah seorang dari mereka; muntahlah!.

Seketika, ia memuntahkan nanah, darah dan nanah bercampur darah hingga penuhlah gelas tersebut.

Demikian juga pada perempuan yang satunya, Nabi SAW bersabda: “muntahlah!’’.

Perempuan yang satunya ini pun memuntahkan sesuatu yang sama dengan perempuan yang pertama. Atas kejadian ini, Nabi SAW menegaskan: kedua anak gadis ini berpuasa dari sesuatu yang dihalalkan oleh Allah dan berbuka dengan sesuatu yang di haramkan oleh Allah kepadanya. Salah seorang dari keduanya duduk berdekatan dengan yang lain, lalu kduanya memakan daging manusia.

¹