Cara Bertaubat yang Benar Pintarbaca.Com Sudah tahu 4 macam cara bertaubat? Atau ingin tahu bagaimana cara bertaubat yang benar menurut ajaran islam?

Apabila suatu kesalahan atau dosa yang dilakukan seorang insan hanyalah berhubungan dengan allah swt maka yang harus dilakukan;

  • Menjauhi/tidak melakukan lagi maksiat yang telah ia lakukan
  • Merasa menyesal telah melakukan kesalahan tersebut.
  • Memiliki keinginan kuat tidak akan melakukan kesalahan tersebut untuk kesekian kali dan selama-lamanya.

Dan apabila kesalahan atau dosa yang di lakukannya berhubungan dengan sesama manusia maka yang harus ia lakukan adalah tiga

syarat di atas di tambahi meminta kerelaan hati dari orang yang telah ia dholimi.

Cara Bertaubat yang Benar

Cara Bertaubat yang Benar

Baca juga:

Sebab Orang Mudah Marah Tak Terkendali Tanpa Sebab dalam Islam
Pengertian Hawa dan Nafsu dalam Al quran dan Cara Mengendalikannya

Cara Bertaubat yang Benar – HAKIKAT Taubat

Ketahuilah bahwasannya pada hakikatnya tobat merupakan buah dari pada penyematan tiga perkara yakni ilmu, kondisi dan perilaku.

Ilmu dapat mempengaruhi kondisi dan kondisi dapat mempengaruhi perilaku.

Terkait ilmu, seseorang dalam hatinya tertanam ilmu lantas ilmu itu ia gunakan tentu saja dia akan bisa mengetahui betapa dahsyatnya dampak bahaya dari sebuah dosa.

Sebab, keberadaan dosa itu bisa di ibaratkan racun yang dapat membunuh dan bisa di ibaratkan sebuah tabir yang menjadi penghalang antara diri seseorang kepada semua hal yang dia cintai.

Ketika secara nyata manusia telah mengetahui hal ini dan di sertai keyakinan kuat dalam lubuk hatinya yang terdalam maka sudah tentu

hati orang tersebut akan merasa gundah gulana apabila jauh terpisah dari yang di cintainya.

Mirip seperti seorang insan yang di tinggal jauh oleh kekasihnya, sudah barang tentu hati insan tersebut akan merasa sakit dan pedih.

Jika kepergian kekasih di sebabkan oleh sebuah perilaku maka seseorang akan menyesali dan merasa susah sebab telah melakukan perilaku itu.

Rasa sakit hati karena perilaku yang menyebabkan kekasihnya pergi hingga ia pun menyesal, dalam istilahnya, di beri nama dengan nadamah.

Dan ketika rasa sakit ini telah kuat menguasai hati seseorang maka semestinya dia akan bangkit dari keterpurukan  yang dialaminya

menuju kondisi lain dan proses bangkit ini dalam istilahnya di beri nama dengan irodah.

Irodah atau kehendak untuk melakukan hal lain ini ada kalanya berkaitan dengan masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang.

Untuk irodah seseorang yang berkaitan dengan masa sekarang adalah seketika itu dia tidak akan mengulangi kesalahan yang pernah di lakukannya.

Sedangkan irodah yang berkaitan dengan masa depan adalah dia akan menyelamatkan sebuah ikrar dan niat kuat pada dirinya untuk tidak pernah mengulangi kesalahan yang sama seperti akhir hayatnya.

Sementara irodah yang berkaitan dengan masa lalu adalah dia akan mengganti kesalahan-kesalahan yang pernah dia lakukan dengan

melakukan hal yang lebih baik lagi dan menambalinya jika bisa untuk kembali.

Sampai di sini, dalam kaitannya dengan tobat, kiranya bisa kita simpulkan bahwa hakikat dari pada tobat adalah perpaduan dari tiga komponen yang telah di sebutkan di atas yakni ilmu, penyesalan dan niat yang berkaitan dengan meninggalkan sebuah hal.

Cara Bertaubat yang Benar – WAJIBNYA Taubat

Cara Bertaubat yang Benar

Terkait hukum, maka tobat status hukumnya adalah wajib dan hukum ini sudah tidak perlu di ragukan lagi. Begitu juga penyesalan dan

bersedih hati terhadap apa yang telah terjadi di masa lalu, hukumnya juga wajib. Penyesalan itulah yang menjadi di jiwa dari sebuah tobat.

Apabila ada orang yang meminum racun, kemudian dia menyesal tentulah wajib baginya untuk memutahkan dan mengeluarkan dari perut dengan segera dan secepat mungkin.

Hal itu harus di lakukan supaya ia segera memperoleh kembali badannya yang hampir binasa dari dunia yang fana ini.

Catatlah! Racun yang berurusan dengan dunia fana, seseorang harus melakukan hal itu secepat mungkin supaya badannya selamat dari kematian.

Maka racun yang berkaitan dengan agama yakni dosa, tentulah usahanya lebih dari pada itu sepaya seseorang bisa selamat dari kebinasaan di kehidupan yang abadi.

Cara Bertaubat yang Benar – ISTIGHFAR PERISAI DIRI

Cara Bertaubat yang Benar

Selain itu, penting kiranya dalam keseharian kita untuk selalu memohon ampunan kepada allah sang maha pengampun. Rutinitas dalam

memohon ampunan kepada allah maksudnya membiasakan diri untuk memperbanyak membaca istighfar.

Serta perlunya kiranya untuk diketahui bahwa bacaan istighfar diri seseorang tidaklah akan berpengaruhjika hanya di lisan saja, bahkan dalam sebuah hadits di terangkan;

Orang yang membaca istighfar dari dosa-dosanya namun dia masih saja melakukan kesalahan dari dosa yang telah di perbuatnya maka sama saja dia telah menghina tanda-tanda kebesaran allah swt’’.

Dari hadits di atas, hendaknya dalam membaca istighfar ada kesinambungan antara lisan dan hati.

Artinya, lisan berucap dan hati menyesali akan apa yang telah di perbuat. Sebagian ulama berkata;

Istighfar yang hanya di lisan, tidak dari sekedar omong kosong belaka’’.

Sayyidah robi’ah al-adawiyah ikut memberikan bahan renungan; ‘’ istighfar kita masih butuh untuk di istighfar lagi’’.

Apa yang di sampaikan sayyidah robi’ah ini tidak lantas berarti istighfar yang kita ucapkan itu bernilai jelek sehingga masih butuh istighfar lagi.

Akan tetapi, yang di maksud beliau; lupanya hati dari meminta ampunan kepada allah serta diamnya lisan dari membaca istighfar itulah yang perlu di istighfari.

Oleh sebab itu, istighfar tidak akan pernah ada batasnya, hari ini jam ini detik ini kita tetap harus membaca istighfar, sebab untuk kedepannya kita belum tentu lepas dari kesalahan lagi maka perlu adanya istighfar yang terus menerus sebagai wujud antisipasi.

Dalam prakteknya, istighfar bisa di lakukan dengan cara setelah solat subuh kita membaca istighfar sebanyak 70 atau 100 kali dengan niat

mudah-mudah kesalahan yang telah dilakukan di sore hari sampai paginya mendapatkan ampunan.

Dan ketika waktu telah masuk sore hari maka membaca istighfar lagi dengan harapan supaya dosa sejak pagi sampai sore bisa di ampuni.

Jangan sampai lupa, pembacaan istighfar itu tentulah harus di sertai dengan rasa penyesalan yang tiada henti dan berusaha sekuat tenaga

untuk tidak melakukan kesalahan lagi meskipun kenyataannya masih saja terkadang terpeleset pada dosa.

Untuk membuktikan bahwa kita mempunyai niat yang sungguh-sungguh dalam bertobat maka biasanya pada awal mula kita akan

mendapatkan ujian dari allah terkait keseriusan diri kita dalam menyatakan keinginan baik itu, entah ujian tersebut berupa lalai

sehingga kita terjerumus lagi pada sebuah kemaksiatan, atau lupa diri saat bergaul dengan sesame sehingga kadang kita masih mudah terpengaruh dengan kejelekan seorang teman.

Ini harus benar-benar di sadari dan ketika ujian itu benar-benar terjadi maka hendaknya segeralah mengingat allah dan langsung memohon ampun kepadanya.

Hal ini dilakukan supaya kita tidak di namakan sebagai orang yang sering melakukan dosa, sebab nabi saw bersabda;

Bukan termasuk orang dari jenisnya orang yang selalu melakukan dosa adalah orang-orang yang selalu membaca istighfar meskipun di hari itu dia mengulanginya sebanyak 70 kali’’.

Hadits di atas berarti, seseorang yang sesegera menyusulkan bacaan istighfar atas kesalahannya maka dia tidak di sebut dengan orang yang selalu melakukan dosa.

Cara Bertaubat yang Benar – BAHAYANYA DOSA

Manakala dosa telah bertindih-lapis niscaya dosa itu akan berkarat di atas hati seorang manusia. Dan ketika hati manusia sudah pekat

dengan lumuran dosa maka butalah hatinya untuk mengetahui kebenaran dan kebaikan agama.

Serta dia akan acuh tak acuh pada urusan akherat dan lebih mementingkan urusan duniawinya, dengan kata lain, cita-citanya hanya terbatas pada urusan dunia saja.

Apabila pendengarannya di ketuk dengan urusan akherat serta bahaya-bahaya yang ada di akherat niscaya ketukan itu hanya akan masuk dari satu telinga dan keluar dari telinga yang satu lagi.

Cara Bertaubat yang Benar – Kisah Taubatnya WANITA yang di MABUK CINTA

Dari ahmad bin sa’id al-‘abid, dari ayahnya ia menceritakan; pada suatu ketika, saat berada di kufah, kami dapati seorang pemuda. Hari-harinya yang datang bertamu, ia sambut dengan suguhan rupa ibadah.

Tak heran ia pun di sebut sebagai pemuda ahli ibadah. Relung hatinya selalu saja setia tertambat pada masjid.

Ibarat badan, masjid baginya adalah hembusan nafas, juga ibaratkan taman yang sudah pasti jarang sekali masjid itu di tinggalkan.

Terlebih lagi, wajahnya tampan serta rupawan, perangainya budiman serta menawan.

Entah kapan waktu tepatnya, suatu ketika, ada seorang wanita cantik, pintar dan cerdik tak sengaja bertemu dengannya.

Hati terkadang memang manja, mudah terlena oleh pandang mata. Maka singkat saja, wanita itu pun luluh dan terpikat oleh wajah tampan millik si pemuda.

Demikianlah cinta yang di terpanggil sebab tajamnya panah pandangan kali pertama. Tak salah bila ramai orang bilang dari mata turun ke hati, cinta pun datang lantas hati pun tak kuasa untuk mengingkari.

Di lain waktu, pada hari selanjutnya, wanita itu berdiri mematung di tepi jalan. Tiba-tiba tambatan hatinya lewat, pemuda yang di tunggu bermaksud menuju ke masjid. Bagi perempuan itu, pastilah tegur sapa tak mungkin di hindari.

Hai pemuda! Dengarlah dari diriku beberapa  kalimat yang akan kukatakan untukmu! Setelah itu, lakukanlah apapun yang engkau mau!’’.

Bila hati kadung teguh, duri terinjak tak sanggup membuatnya rapuh. Ternyata pemuda it uterus berjalan, membisu dan enggan berkata-kata dengan wanita yang menyapanya.

Selama nyawa di kandung badan pantang pulang bila harus tanpa senyuman.

Betul saja, wanita tadi tetap berdiri di tepi jalan yang barusan pemuda ahli ibadah itu berjalan di sana.

Kali ini sang pemuda bermaksud pulang ke rumahnya. Dan wanita itu pun menegurnya kembali;

Wahai pemuda! Dengarlah beberapa kalimat dari diriku yang akan aku katakana kepadamu!’’

Pemuda tersebut sejenak hanya membalas dengan kepalanya yang tertunduk untuk kemudian ia akan memberikan sapaan;

Di sini adalah hulunya kecurigaan, aku tidak mau kecurigaan itu lantas mengalir kepadaku’’.

Demi allah! Aku tidak berdiri pada tempat perhentian  ini lantaran kebodohanku dengan keadaanmu.

Tetapi, dengan berlindung kepada Allah, moga tak banyak orang yang membicarakan perihal tentang diriku dan juga tentang perasaan yang telah memaksaku untuk menemuimu di sini sebab aku sudah sangat mengerti bahwa hal yang menurutku kecil bisa saja akan menjadi hal yang begitu besar menurut manusia.

Sementara mereka sendiri ibarat botol yaitu hal paling kecil di antara sesuatu yang di hinakan.

Dan aku disini hanya sekedar hendak mengatakan bahwa segenap ragaku telah terhanyut dalam lamunan tentang diriku dan dirimu. Rasa ini sungguh karena Allah’’ jawab perempuan itu.

Maka pemuda tersebut segera saja pulang ke rumahnya. Setelah di rumah, ia bermaksud mengerjakan shalat namun bagaimana mungkin dia bisa melakukan shalat sementara dalam fikirannya masih terngiang apa yang baru saja ia dengar.

Sebab itu, diambilnya secarik kertas dan di tulisnya sepucuk surat. Kemudian ia berjalan dari rumanya dan langsung saja ia menemui wanita itu di jalan yang biasa.

Di sana, sang pemuda, memberikan surat itu kepada wanita tadi lalu kemudian ia kembali lagi ke rumahnya.

Begini suratnya;

Bismillahir rahma nirrahim.

Ketahuillah, wahai perempuan, bahwa Allah, apabila salah seorang hambanya berbuat maksiat kepadanya niscaya ia amat penyantun.

Apabila hamba itu kembali berbuat maksiat pada kali yang lain, niscaya Allah menutupkan dosanya.

Apabila hamba tersebut memakai lagi maksiat itu, niscaya Allah ta’ala marah kepadanya dengan suatu kemarahan di mana langit, bumi, gunung-gunung, pohon, kayu dan hewan akan sempit olehnya.

Siapakah yang sanggup menahan kemarahannya?

Kalau apa yang aku sebutkan itu tidak engkau percaya, maka aku peringatkan engkau dengan hari dimana langit pada hari itu hancur seperti bulu yang di celup.

Sementara banyak umat manusia duduk di atas lututnya karena qudrah Tuhan yang maha perkasa dan maha agung.

Sesungguhnya aku, demi Allah, sudah merasa lemah untuk memperbaiki diriku sendiri, maka betapa lagi untuk memperbaiki orang lain.

Jikalau engkau mulai percaya atas apa yang aku sebutkan itu maka sungguh aku akan memberitahukan dokter penunjuk jalan, yang mengobati luka yang menyakitkan dan sakit yang menyedihkan.

Tabib itu adalah Allah rabbul alamin. Maka cobalah engkau ke sana dan memohon dengan sebanar-benarnya.

Maaf, aku tidak sempat bila harus mengurusi lantaran ingatanku selalu terbanyang akan pesan tuhan;

“Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat ketika hati sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan.

Orang – orang yang zalim tidak mmpunyai teman setia seorang pun dan tidak mempunyai seorang pemberi syafa’at yang di terima syafa’anya.

Dia mengetahui mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati’’.

Dimanakah tempatnya supaya bisa lari dari ayat ini?

Kemudian, setelah beberapa hari, sang pemuda melihat perempuan itu lagi, di tepi jalan seperti biasanya.

Dan syahdan, sang pemuda memutuskan untuk kembali lagi ke rumahnya supaya wanita tadi tidak melihatnya. Namun sang wanita masih saja memanggil:

Hai pemuda! Jangan pulang karena tidak akan ada lagi perjumpaan sesudah hari ini untuk selama-lamanya, kecuali besok di hadapannya Allah ta’ala ‘’.

Entah apa yang telah terjadi dengan perempuan itu, tiba – tiba saja ia menangis sejadinya, dalam serak suaranya ia berkata;

“aku bermohon kepada Allah, semoga ia memudahkan apa yang sulit dari urusanmu’’.

Kemudian wanita tadi mengikuti pemuda itu dan meminta: berilah aku azimat petuah darimu yang akan selalu aku bawa. Berilah aku satu pesan yang dapat aku lakukan’’

Sang pemuda pun memberikan jawaban”

Aku berpesan agar engkau menjaga diri dengan hatimu. Dan aku ingatkan engkau akan firman Allah ta’ala;

“dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian dia membangunkan kamu pada siang hari untuk di sempurnakan umur yang telah di tentukan, kemudian kepada Allah lah kamu kembali.lalu dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan’’.

Wanita itu lalu menundukkan kepalanya sementara tangisannya tambah menjadi, lebih keras dari tangisan yang pertama hingga ia pun seketika terjatuh pingsan.

Setelah sadarkan diri maka perempuan itu memilih untuk terus menetap di rumah miliknya dengan rutin mengerjakan ibadah.

Teruslah wanita itu melakukan yang demikian, sehingga ia meninggal dalam keadaan buta.

Setelah kejadian ini, ketika sang pemuda mengingat perempuan itu ia langsung menangis. Dan apabila ada yang bertanya:

Mengapa engkau menangis? Bukankah engkau yang memutuskan asanya dari dirimu?’’

Pemuda tersebut akan menjawab ;

“sesungguhnya aku telah menyembelih harapannya pada permulaan urusannya. Aku jadikan perpindahan wanita itu sebagai simpanan bagiku disisi Allah ta’ala. Maka aku malu pada Allah untuk menarik kembali simpanan yang sudah terlanjur aku titipkan padanya’’.

Cara Bertaubat yang Benar – AWAN Yang MELINDUNGI ORANG Yang Bertaubat

Diriwayatkan, dari abu baar bin Abdullah al mazani bhwa lelaki yang bekerja sebagai tukang jagal tertarik pada seseorang budak perempuan milik sebagian tetangganya.

Dalam satu kesempatan, oleh tuannya, budak itu di utus untuk pergi ke desa sebelah untuk menunaikan sebuah keperluan.

Mengerti akan hal itu, maka tugal jagal pun mengikuti budak perempuan tersebut dan setelah bertemu ia mencoba membujuknya untuk berbuat yang tidak senonoh.

Budak itu berkata kepadanya;

Janganlah kamu mengajakku untuk berbuat hal yang demikian ini! Sesungguhnya aku sangat mencintaimu, wahai laki-laki, melebihi kecintaamu kepadaku. Hanya saja, aku takut kepada allah’’.

Jadi, kamu takut kepadanya dan aku tidak takut kepadanya!’’. Jawab tukang jagal itu.

Tak kepalang tanggung, jawaban budak perempuan membuat hati terasa malu dan tersentak tak karuan. Mendengar jawaban budak

perempuan itu, tukang jagal hanya mampu bungkam, tak dapat menjawab apa-apa melainkan hanya diam. Akhirnya, tukang jagal pun kembali ke tempatnya kemudia ia bertobat.

Satu kisah ini telah berlalu. Setelah beberapa waktu, saat dalam perjalanan menuju pulang, tukang jagal merasa kehausan yang hampir membawa dirinya ke ambang kematian.

Di saat kondinya seperti itu, tiba-tiba ia bertemu dengan utusan seorang nabi dari kalangan kaum bani israil. Utusan itu bertanya;

Gerangan apakah yang sedang engkau derita, wahai kisanak?’’

Haus, wahai saudaraku!’’ jawab tukang jagal.

Mari kita memohon kepada allah swt seraya berdoa semoga kita di lindungi oleh awan hingga kita bisa masuk ke desa’’. Ajak utusan nabi kepadanya.

Aku tidak mempunyai amal saleh yang bisa aku pergunakan sebagai lantaran memohon kepada allah swt. Oleh karena itu, kisanak saja yang berdoa’’ sahut tukang jagal.

Baiklah kalau begitu, aku yang akan berdoa dan kamu mengamini doaku’’ laki-laki utusan itu membalasnya.

Maka laki-laki utusan itu berdoa sementara tukang jagal mengamini doanya. Dan tidak beranjak begitu lama, datanglah  awan kepada kedua

orang ttersebut untuk menjadi peneduh bagi mereka sepanjang perjalanan hingga akhirnya mereka pun sampai di sebuah desa.

Di desa itu segala lelah dan payah, mereka buang jauh dan ketika terasa cukup maka mereka bergerak lagi untuk melanjutkan perjalanan.

Namun ada yang agak berbeda, sebab, kali ini yang di teduhi oleh awan hanyalah tukang jagal sementara lalaki utusan tidak demikian.

Melihat kejadian itu, lelaki utusan lalu berkata kepada tukang jagal;

Engkau menganggap dirimu tidak mempunyai anak saleh. Aku yang berdoa dan kamu yang mengamini. Setelahnya, kita di lindungi dan di naungi oleh awan.

Namun ketika kita telah sampai di desa ini, awan tersebut hanya mau mengikutimu. Hendaknya, kamu menceritakan kepadaku tentang dirimu, wahai kisanak!’’

Tanpa mau peduli akan rasa malu atau rendah diri, tukang pegal itu pun menceritakan kejadian yang telah dia alami bersama budak perempuan yang sangat dia cintai.

Dan atas cerita itu, lelaki utusan itu memberikan tanggapan;

Sesungguhnya orang yang bertaubat, di sisi allah ada sebuah tempat yang tiada satu orang pun dari manusia boleh menempatinya’’.

Cara Bertaubat yang Benar – KISAH TauBATNYA IBLIS

Diriwayatkan bahwa nabi musa as. Di jumpai oleh iblis. Dalam perjumpaan itu iblis berkata kepada beliau;

Hai musa! Engkau yang di pilih oleh allah untuk menjadi utusannya dan allah juga penah berbincang-bincang denganmu.

Sedangkan aku adalah salah satu daripada allah yang telah berdosa. Aku ingin sekali bertobat, maka sudilah engkau memberi pertolongan

kepadaku, supaya engkau menyampaikan pertanyaan tobatku ini kepada tuhanku, mungkin saja dia masih mau menerima tobatku!’’

ya boleh, akan aku usahakan! “nabi musa a.s menyanggupinya. Nabi Musa a.s pun naik ke atas bukit dan berkata – kata dengan Allah swt.

Setelah selesai bermunajat kepada allah swt ia bergegas hendak turun dari bukit. Namun sewaktu nabi musa hampir turun, allah berfirman kepadanya;

Tunaikan lah amanah!’’

Wahai tuhanku! Hambamu iblis ingin bertobat’’ kata nabi musa.

Wahai musa! Engkau telah menunaikan hajatmu. Suruhlah iblis itu bersujud kepada kuburan adam. Dengan begitu, tobatnya akan di terima’’ perintah allah kepada nabi musa.

Usai menerima perintah, barulah nabi musa turun menemui iblis. Saat bertemu dengan iblis, beliau menyampaikan perintah;

Aku telah sampaikan apa yang kau pesankan kepadaku. Oleh allah, kau di suruh bersujud kepada kuburan adam a.s supaya tobatmu di terima’’.

Aku tidak bersujud kepadanya waktu masih hidup. Apakah aku akan bersujud kepadanya setelah ia mati?’’ jawab iblis dengan sombong.

Entah apa yang terjadi setelah itu namun jelas, iblis enggan menunaikan perintah allah supaya sujud pada kuburan nabi adam. Dan tidak lama kemudian iblis berkata pada nabi musa;

Hal musa! Engkau mendapatkan hak balasan dariku lantaran engkau telah mau membantuku untuk menyampaikan pesanku kepada allah swt. Sebagai balasan atas kebaikanmu maka ingatlah tiga hal yang akan aku pesankan kepadamu, yang aku tidak akan bisa mencelakaimu jika menetapi tiga hal ’’;

Prtama; ingatlah kepadaku ketika kamu marah. Sesungguhnya rohku ada dalam hatimu. Mataku pada matamu. Aku merasukimu melalui tempat mengalirnya darah.

Kedua; ingatlah aku apabila kemarahanmu sedang memuncak. Sesungguhnya ketika manusia sedang dalam puncak amarahnya, maka

aku hembuskan nafas amarah melalui hidungnya yang sehingga dia akan gelap matanya yakni tidak akan tahu atas apa yang ia perbuat.

Ketiga; ingatlah diriku ketika kamu berada di garis peperangan. Maka sesungguhnya, aku akan mendatangi manusia ketika berada di garis perang. Lalu aku ingatkan pikirannya tentang istri, anak dan keluarganya. Sehingga ia berppaling dari garis perang.

Jagalah diri untuk tidak duduk-duduk dengan wanita yang bukan mahram. Aku adalah utusannya kepadamu dan utusanmu kepadanya.

Tidak henti-hentinya aku melakukan hal ini sampai aku membuat fitnah di antara kamu dengan dia dan aku membuat fitnah di antara dia dengan kamu.

Cara Bertaubat yang Benar – OBROLAN NABI YAHYA dengan IBLIS

Wahib bin al-walid berkata; pernah aku mendengar sebuah cerita bahwa iblis beralih rupa menjadi sosok manusia sewaktu ia berada di hadapan nabi yahya binzakaria  a. s iblis itu berkata;

Aku bermaksud untuk menasehatimu, wahai nabi yahya’’.

Aku tidak memerlukan nasehatmu. Akan tetapi berilah aku penjelasan tentang anak adam!’’  jawab nabi yahya a.s

Lalu iblis itu menjawab; ‘’ bagi kelompokku, manusia terbagi menjadi tiga golongan.

Pertama, adalah golongan yang paling sulit bagi kami untuk menggodanya. Kami hadapi salah seorang dari mereka, sehingga kami akan mudah memfitnah dia serta kami menempat di sisi nya namun ia berlindung dengan membaca istighfar dan bertobat.

Karenanya, hancurlah semua yang telah kami peroleh darinya. Kemudian, kami kembali lagi kepadanya dan ia pun kembali lagi membaca istighfar serta bertobat.

Kami tidak mampu mendapatkan apa yang menjadi misi kami darinya. Kami hanya mendapatkan keletihan dan kepayahan dalam menggodanya.

Kedua; adalah mereka yang telah berada dalam genggaman kami, seperti halnya bola yang berada dalam tangan anak-anakmu. Mereka kami permainkan menurut kehendak kami mereka benar-benar memasrahkan diri mereka kepada kami.

Ketiga, dolongan terakhir ini adalah mereka yang perangainya seperti dirimu, yakni orang-orang yang terpelihara dari kesalahan. Kami tidak sanggup berbuat apa-apa terhadap mereka.

¹